Parepare
merupakan suatu kota kecil namun sangat indah dan cantik. Kekhasan kota
ini dari segi panorama pemandangannya yang sangat menakjubkan. Kota yang
dijuluki Bandar Madani ini, juga menawarkan beberapa objek wisata yang banyak
dikunjungi orang.
Salah
satu objek wisata alam yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya adalah
gua tompangnge atau biasa juga disebut gua kelelawar,mengingat gua ini
banyak dihuni oleh ribuan kelelawar.
Ada
dua jalan menuju Gua Tompangnge ini. Pertama jalan melaui Pesantren Al
Badar,jalan ini cukup praktis karena dapat ditempuh melalui kendaraan hingga di
bibir sungai. Sesampai di bibir sungai, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar
satu hingga dua kilometer untuk sampai ke Gua Tompangnge ini
Namun jangan khawatir kelelahan, di Pesantren Al Badar terdapat
usaha sapi perah. Di sini orang dapat menikmati susu sapi murni yang diperas
sendiri dari sapinya dan harganya pun terjangkau hanya Rp 10 ribu per botolnya.
Sementara
jalur kedua yang melalui Bilalangnge tembus hingga Lappa Angin, cukup jauh
ditempuh dibandingkan dengan jalur pertama. Untuk melalui jalur ini, perjalanan
harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 kilometer. Namun demikian
kelebihan melalui jalur kedua ini, hamparan pemandangan indah terlebih
melalui pinggiran sungai akan menyertai perjalanan.
Sesampai
di mulut gua, sudah dapat disaksikan ribuan kelelawar yang memang hidup di gua
tersebut. Jalan masuknya pun sangat berlumpur ,kotor dan bau sekali.” Saya
hanya bisa masuk sampai 30 meter saja, karena untuk masuk ke dalam lagi perlu
bantuan oksigen” ujar Iqbal, staf Dinas Pariwisata Parepare yang telah beberapa
kali masuk ke gua tersebut.
Di
sekitar Gua Tompangnge ini, juga terdapat air terjun yang sangat indah
.Letaknya pun tidak terlalu jauh dari gua sekitar 500 meter saja. Pada air
terjun tersebut, airnya mengalir dari untaian akar-akaran yang menggantung dari
puncak bukit yang ada di sebelah Gua Tompangnge.
Objek wisata Goa Kelelawar diperuntukkan sebagai Obyek Wisata Alam yang
dicanangkan luasnya ± 100 hektar, fungsinya lebih diarahkan pada fungsi
konservasi hutan. Yang telah dilakukan adalah penyusunan Master Plan sebagai
acuan dalam hal pengembangan lebih lanjut.
“Gua ini berpotensi untuk
dikembangkan dan tentu saja untuk itu setidaknya kita harus melakukan survey
dan penelitian terlebih dahulu. Dalam eksplorasi gua setidaknya perlu
pemetaan gua untuk mengukur mulut gua, panjang gua, potensi air, dan
potensi lainnya. termasuk potensi tinggalan budayanya. Tentu saja hal ini dapat
terealisasi apabila dilakukan penelitian terlebih dahulu dengan
melibatkan pihak yang berkompeten baik itu arkeolog maupun speolog.” ujar Yadi
Mulyadi, arkeolog dari Unhas yang pernah melihat langsung ke Gua Tompangnge dan
sekarang ini menempuh pendidikan S2 di UGM
Selain itu, terang Yadi, kandungan
fosfat yang tinggi dari guano kelelawar yang dihasilkan, dapat dimanfaatkan
masyarakat sebagai pupuk alami. Dengan jumlah kelelawar yang
sangat banyak, Gua Tompangeng dapat menghasilkan guano dengan
jumlah yang cukup banyak. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa, namun yang
perlu di perhatikan adalah pengelolaan yang tepat sehingga tidak
mengganggu keberadaan gua dan juga kelestarian gua
Gua Tompangnge ini memiliki cerita tersendiri di masyarakat sekitarnya,
seperti yang diceritakan oleh Wa Dompu, pria yang telah lama bermukim
bersama keluarganya di sekitar Gua Tompangnge. Ia menuturkan di dalam gua
tesebut terdapat batu lappa (batu datar) yang dipergunakan untuk tempat
ibadah.Di gua ini,lanjut dia, memang ada ”penjaganya”.(Muh.Yusni)
Bacukiki merupakan pelabuhan dan
bandar perdagangan kesohor di nusantara pada abad ke-15 dan 16.
Dengan posisinya tersebut, ia menjadi rebutan kerajaan di Sulawesi.
Tercatat beberap kerajaan yang pernah menaklukkan Bacukiki yakni Kerajaan Wajo,
Gowa dan Bone dan Kerajaan Siang (Pangkajene).
Saat Bacukiki dikuasai Kerajaan Gowa
dibawah kepemimpinan Raja Gowa X Tunipalangga (1546 – 1565), banyak rakyat
Bacukiki dipindahkan ke Gowa, termasuk orang-orang Melayu yang sudah mendirikan
perwakilan usaha di Bacukiki. Dan itulah asal mula banyak pemukim Melayu di
Makassar (Gowa).
Saat Gowa ditaklukkan oleh Arung
Palakka dari Bone, maka otomatis Bacukiki menjadi daerah taklukannya juga.
Arung Palakka memerangi Datu Bakke (Wajo) dan meminta Datu Bakke menyerah.
Belanda yang merasa punya peluang membantu Datu Bakke menawarkan bantuan
kepadanya untuk mengevakuasinya dengan tiga kapal dari pelabuhan
Bacukiki.
Dari sana, datu Bakke diharapkan
meneruskan perjalanan ke Tamparang (Ajatapparang). Mendengar berita ini,
membuat Arung Palakka murka. Belanda berdalih bahwa ia hanya mengirimkan satu
kapal ke Bacukiki, karena kebetulan VOC berniat mengembangkan perdagangan di
Ajatapparang.
Demikian sekilas gambaran Bacukiki
masa lalu yang ditulis oleh Leonard Andaya dalam bukunya “ The Heritage of
Arung Palakka”, berdasarkan studi ilmiahnya dari berbagai sumber yang masih
tersimpan di negeri Belanda.
Sekarang ini telah masyarakat
Bacukiki berkembang seiring perkembangan Kota Parepare. Mereka tetap eksis
meski Parepare sekarang lebih banyak dihuni kaum pendatang dari berbagai daerah
di tanah air.
Kecamatan Bacukiki telah dimekarkan
menjadi dua kecamatan yakni Kecamatan Bacukiki dan Bacukiki Barat.Kecamatan
Bacukiki meliputi empat kelurahan yakni Lompoe,Watang Bacukiki, Lemoe dan
Galung Maloang. Sementara Bacukiki Barat meliputi wilayah Lumpue,Sumpang Minangae,
Cappa Galung, Kampung Baru, Bumi Harapan dan Tiro Sompe.
(Sumber : Parepare Lebih Indah dari
Monte Carlo/A.Makmur Makka)

0 komentar