Thursday, April 4, 2013

Serba Serbi Kota Parepare


Parepare merupakan suatu kota kecil namun  sangat indah dan cantik. Kekhasan kota ini dari segi panorama pemandangannya yang sangat menakjubkan. Kota yang dijuluki Bandar Madani ini, juga menawarkan beberapa objek wisata yang banyak dikunjungi orang.

Salah satu objek wisata alam yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya adalah gua tompangnge atau biasa juga disebut gua kelelawar,mengingat gua  ini banyak dihuni oleh ribuan kelelawar.

Ada dua jalan menuju Gua Tompangnge ini. Pertama  jalan melaui Pesantren Al Badar,jalan ini cukup praktis karena dapat ditempuh melalui kendaraan hingga di bibir sungai. Sesampai di bibir sungai, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar satu hingga dua  kilometer  untuk sampai ke Gua Tompangnge ini  Namun jangan khawatir kelelahan, di Pesantren Al Badar  terdapat usaha sapi perah. Di sini orang dapat menikmati susu sapi murni yang diperas sendiri dari sapinya dan harganya pun terjangkau hanya Rp 10 ribu per botolnya.

Sementara jalur kedua yang melalui Bilalangnge tembus hingga Lappa Angin, cukup jauh ditempuh dibandingkan dengan jalur pertama. Untuk melalui jalur ini, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 kilometer. Namun  demikian kelebihan melalui jalur kedua ini, hamparan pemandangan indah  terlebih melalui pinggiran sungai akan menyertai perjalanan.
Sesampai di mulut gua, sudah dapat disaksikan ribuan kelelawar yang memang hidup di gua tersebut. Jalan masuknya pun sangat berlumpur ,kotor dan bau sekali.” Saya hanya bisa masuk sampai 30 meter saja, karena untuk masuk ke dalam lagi perlu bantuan oksigen” ujar Iqbal, staf Dinas Pariwisata Parepare yang telah beberapa kali masuk ke gua tersebut.

Di sekitar Gua Tompangnge ini, juga terdapat air terjun yang sangat indah .Letaknya pun tidak terlalu jauh dari gua sekitar 500 meter saja. Pada air terjun tersebut, airnya mengalir dari untaian akar-akaran yang menggantung dari puncak bukit yang ada di sebelah Gua Tompangnge.

Objek wisata Goa Kelelawar diperuntukkan sebagai Obyek Wisata Alam yang dicanangkan luasnya ± 100 hektar, fungsinya lebih diarahkan pada fungsi konservasi hutan. Yang telah dilakukan adalah penyusunan Master Plan sebagai acuan dalam hal pengembangan lebih lanjut.

“Gua ini berpotensi untuk dikembangkan dan tentu saja untuk itu setidaknya kita harus melakukan survey dan penelitian terlebih dahulu. Dalam eksplorasi gua  setidaknya perlu pemetaan gua  untuk mengukur mulut gua, panjang gua, potensi air, dan potensi lainnya. termasuk potensi tinggalan budayanya. Tentu saja hal ini dapat terealisasi apabila dilakukan   penelitian terlebih dahulu dengan melibatkan pihak yang berkompeten baik itu arkeolog maupun speolog.” ujar Yadi Mulyadi, arkeolog dari Unhas yang pernah melihat langsung ke Gua Tompangnge dan sekarang ini menempuh pendidikan S2 di UGM

Selain itu, terang Yadi, kandungan fosfat yang tinggi dari guano kelelawar yang dihasilkan, dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai pupuk alami. Dengan jumlah kelelawar yang sangat    banyak, Gua Tompangeng dapat menghasilkan guano dengan jumlah yang cukup banyak. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa, namun yang perlu di perhatikan adalah pengelolaan yang tepat sehingga  tidak mengganggu  keberadaan gua dan juga kelestarian gua

Gua Tompangnge ini memiliki cerita tersendiri di masyarakat sekitarnya, seperti yang diceritakan oleh Wa Dompu, pria yang  telah lama bermukim bersama keluarganya di sekitar Gua Tompangnge. Ia menuturkan di dalam gua tesebut terdapat  batu lappa (batu datar)  yang dipergunakan untuk tempat ibadah.Di gua ini,lanjut dia, memang ada ”penjaganya”.(Muh.Yusni)


Bacukiki merupakan pelabuhan dan bandar perdagangan kesohor di  nusantara  pada abad ke-15 dan 16. Dengan posisinya tersebut, ia menjadi rebutan  kerajaan di Sulawesi. Tercatat beberap kerajaan yang pernah menaklukkan Bacukiki yakni Kerajaan Wajo, Gowa dan Bone dan Kerajaan Siang (Pangkajene).

Saat Bacukiki dikuasai Kerajaan Gowa dibawah kepemimpinan Raja Gowa X Tunipalangga (1546 – 1565), banyak rakyat Bacukiki dipindahkan ke Gowa, termasuk orang-orang Melayu yang sudah mendirikan perwakilan usaha di Bacukiki. Dan itulah asal mula banyak pemukim Melayu di Makassar (Gowa).

Saat Gowa ditaklukkan oleh Arung Palakka dari Bone, maka otomatis Bacukiki menjadi daerah taklukannya juga. Arung Palakka memerangi Datu Bakke (Wajo) dan meminta Datu Bakke menyerah. Belanda yang merasa punya peluang membantu  Datu Bakke menawarkan bantuan kepadanya untuk mengevakuasinya  dengan tiga kapal dari pelabuhan Bacukiki.

Dari sana, datu Bakke diharapkan meneruskan perjalanan ke Tamparang (Ajatapparang). Mendengar berita ini, membuat Arung Palakka murka. Belanda berdalih bahwa ia hanya mengirimkan satu kapal ke Bacukiki, karena kebetulan VOC berniat mengembangkan perdagangan di Ajatapparang.

Demikian sekilas gambaran Bacukiki masa lalu yang ditulis oleh Leonard Andaya dalam bukunya “ The Heritage of Arung Palakka”, berdasarkan studi ilmiahnya dari berbagai sumber yang masih tersimpan di negeri Belanda.

Sekarang ini telah masyarakat Bacukiki berkembang seiring perkembangan Kota Parepare. Mereka tetap eksis meski Parepare sekarang lebih banyak dihuni kaum pendatang dari berbagai daerah di tanah air.

Kecamatan Bacukiki telah dimekarkan menjadi dua kecamatan yakni Kecamatan Bacukiki dan Bacukiki Barat.Kecamatan Bacukiki meliputi empat kelurahan yakni Lompoe,Watang Bacukiki, Lemoe dan Galung Maloang. Sementara Bacukiki Barat meliputi wilayah Lumpue,Sumpang Minangae, Cappa Galung, Kampung Baru, Bumi Harapan dan Tiro Sompe.
(Sumber : Parepare Lebih Indah dari Monte Carlo/A.Makmur Makka)
Load disqus comments

0 komentar

Terapi Urine/Air Kencing...........

TERAPI URINE/AIR KENCING SEBAGAI OBAT PENYAKIT Teman saya seorang polisi menderita penyakit syaraf terjepit dan dia sangat mender...